Kehadiran Dwi dalam salah satu tradisi budaya Jawa tersebut menjadi momentum untuk melihat secara langsung bagaimana warisan budaya dan tradisi leluhur masih dipertahankan di lingkungan Keraton Surakarta.
Grebeg Maulud merupakan tradisi yang digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Salah satu rangkaian yang menjadi perhatian masyarakat adalah prosesi gunungan yang kemudian dibawa menuju Masjid Agung untuk mengikuti rangkaian doa sebelum diperebutkan oleh masyarakat.
Menurut KRA Dwi Indrotito Cahyono S.H., M.M, tradisi tersebut memiliki nilai budaya yang sangat kuat. Selain menjadi bagian dari peringatan keagamaan, Grebeg Maulud juga menunjukkan bagaimana nilai-nilai budaya, sejarah dan kearifan lokal tetap hidup di tengah masyarakat.
“Tradisi seperti ini harus terus kita rawat. Jangan sampai generasi muda hanya mengenal budaya dari cerita, tetapi tidak memahami dan melihat langsung bagaimana tradisi itu dijalankan,” ujarnya Rabu (26/08).
Ia menilai pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat. Komunitas budaya, generasi muda dan masyarakat secara umum memiliki peran penting agar warisan leluhur tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.
Sebagai Ketua PAKASA Malang Raya, sam Tito juga menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian budaya dan kearifan lokal.
“Budaya merupakan bagian dari identitas bangsa. Karena itu, menjaga budaya bukan hanya tugas satu kelompok, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Kehadiran Dwi dalam Grebeg Maulud di Keraton Surakarta sekaligus menjadi bentuk perhatian PAKASA Malang Raya terhadap keberlangsungan tradisi Jawa yang memiliki nilai sejarah dan filosofi yang kuat.(Red)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar