![]() |
| Oleh: Uswatun Hasanah, S.E | Jurnalis: Ferry |
Momentum Hari Kartini kerap diwarnai dengan seremoni budaya, seperti mengenakan kebaya. Namun lebih dari itu, peringatan ini sejatinya mengandung pesan mendalam tentang pentingnya intelektualitas sebagai bentuk emansipasi yang hakiki. Gagasan Kartini yang tertuang dalam buku Door Duisternis tot Licht memperlihatkan bahwa perjuangannya adalah melawan keterbatasan berpikir dan sistem sosial yang mengekang perempuan.
Pendidikan sebagai Instrumen Pembebasan
Kartini memandang pendidikan bukan sekadar sarana memperoleh gelar, tetapi sebagai alat untuk membebaskan perempuan dari belenggu tradisi dan budaya patriarki. Jika dahulu perempuan mengalami “pingitan” secara fisik, kini bentuknya berubah menjadi tekanan sosial, beban ganda, serta keterbatasan dalam pengambilan keputusan.
Di era modern, pendidikan bagi perempuan menjadi simbol kedaulatan—memberikan kemampuan untuk menentukan pilihan hidup, baik dalam karier, kesehatan, maupun partisipasi sosial dan ekonomi.
Peran Strategis Perempuan dalam Keluarga
Pandangan yang meremehkan pendidikan perempuan, seperti anggapan bahwa perempuan pada akhirnya hanya akan berada di ranah domestik, dinilai sebagai bentuk pemikiran usang. Justru, perempuan sebagai ibu memiliki peran strategis sebagai “madrasah pertama” bagi generasi penerus.
Perempuan yang berpendidikan akan melahirkan generasi yang kuat secara intelektual dan emosional. Dengan demikian, pendidikan perempuan adalah investasi jangka panjang dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia.
Tantangan di Era Digital
Meskipun akses pendidikan bagi perempuan semakin terbuka, tantangan baru muncul di era digital. Kesenjangan persepsi terhadap bidang sains dan teknologi masih terjadi, di samping derasnya arus informasi yang menuntut kemampuan literasi digital yang tinggi.
Jika Kartini dahulu berjuang melalui surat-menyurat, perempuan masa kini menghadapi tantangan berupa algoritma media sosial, hoaks, serta standar ganda yang masih membatasi ruang gerak perempuan.
Selain itu, isu klasik seperti pernikahan dini dan keterbatasan akses pendidikan di daerah terpencil masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Menuju Kepemimpinan Perempuan
Perempuan terdidik tidak hanya berperan sebagai pelaku, tetapi juga sebagai penggerak perubahan. Di berbagai sektor, kehadiran perempuan membawa perspektif yang lebih inklusif dan empatik dalam pengambilan kebijakan.
Warisan Kartini adalah keberanian untuk berpikir berbeda dan melampaui batas. Oleh karena itu, pendidikan perempuan harus dilihat sebagai investasi peradaban, bukan sekadar kebutuhan individu.
Menyalakan Kembali Semangat Kartini
Refleksi Hari Kartini tahun ini menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Selama masih ada perempuan yang terhambat akses pendidikannya, selama stigma terhadap perempuan masih ada, maka semangat Kartini harus terus dihidupkan.
“Habis Gelap Terbitlah Terang” bukan sekadar ungkapan puitis, melainkan simbol harapan bahwa melalui pendidikan, perempuan dapat mencapai kemerdekaan sejati.
Menghargai Kartini tidak cukup dengan simbol, tetapi dengan tindakan nyata: membuka ruang seluas-luasnya bagi perempuan untuk belajar, bermimpi, dan memimpin tanpa batas.
(Ferry B | detikterkini.id)




