![]() |
| Kisah Cerpen: Taufandi Hidayah |
detikterkini.id -- Di sebuah ruang redaksi kecil yang hampir sepi menjelang malam, selembar koran tua memantik percakapan panjang antara dua jurnalis yang mulai lelah meliput konflik dunia yang tak kunjung usai. Sebuah judul opini yang tajam menggugah perdebatan tentang identitas, politik, dan kemanusiaan. Namun percakapan sederhana itu perlahan berubah menjadi pengalaman ganjil ketika mereka menemukan sesuatu yang tak mungkin dijelaskan dengan logika biasa.
Malam turun perlahan di Jakarta. Dari jendela lantai tiga kantor redaksi, Farhan melihat lampu kendaraan di jalan raya seperti aliran kunang kunang yang bergerak tanpa henti. Ruang kerja itu hampir kosong. Beberapa komputer masih menyala, tetapi sebagian besar kursi telah ditinggalkan penghuninya sejak satu jam yang lalu.
Di atas meja kayu yang penuh goresan tinta dan noda kopi, sebuah lembar koran tergeletak. Kertasnya sedikit menguning, seolah telah lama tersimpan di tempat yang lembap dan terlupakan.
Farhan memungutnya dengan rasa ingin tahu. Matanya berhenti pada judul besar di halaman opini.
Kamu tidak mendukung Iran karena Syiah
Di bawahnya ada kalimat lain yang membuatnya mengangkat alis.
Memangnya Netanyahu dan Trump itu Sunni
Farhan tersenyum kecil. Ia membaca ulang kalimat itu beberapa kali. Ada sesuatu yang terasa janggal sekaligus menarik dalam cara kalimat itu menantang cara berpikir orang banyak yang sering menilai konflik dunia hanya dari label identitas.
Pintu ruang redaksi tiba tiba terbuka. Rama masuk sambil membawa dua gelas kopi hitam dari warung kecil di seberang kantor.
Ia meletakkan satu gelas di depan Farhan.
Kamu kelihatan seperti sedang membaca rahasia negara, katanya sambil duduk.
Farhan menggeser koran itu ke arah Rama.
Baca ini.
Rama membaca judulnya cepat. Ia tertawa pendek.
Provokatif sekali.
Memang, jawab Farhan. Tapi juga cerdas.
Rama menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menatap kembali tulisan itu.
Tulisan seperti ini biasanya membuat orang marah dulu sebelum berpikir.
Farhan menyesap kopi yang masih panas.
Menurutmu kenapa banyak orang menilai konflik dunia hanya dari identitas agama.
Rama mengangkat bahu.
Karena itu cara paling mudah memahami dunia. Kita dan mereka.
Farhan menggeleng pelan.
Padahal kenyataannya jauh lebih rumit.
Ia menunjuk kalimat di koran itu.
Kalimat ini seperti menampar cara berpikir yang terlalu sederhana.
Rama membaca lagi perlahan.
Memangnya Netanyahu dan Trump itu Sunni.
Ia tersenyum tipis.
Satir yang tajam.
Percakapan mereka berhenti sejenak. Dari televisi kecil di sudut ruangan terdengar suara pembaca berita internasional. Layar menampilkan gambar bangunan yang hancur di sebuah kota Timur Tengah.
Rama menatap layar itu dengan wajah yang tiba tiba muram.
Kamu tahu, katanya pelan, dulu aku hampir membenci satu bangsa karena propaganda.
Farhan menoleh.
Serius.
Rama mengangguk.
Waktu kuliah aku membaca terlalu banyak tulisan yang menggambarkan dunia seolah terbagi menjadi dua kubu mutlak.
Lalu aku bertemu seorang dosen dari negara yang selama ini kusebut musuh.
Dan dia orang paling baik yang pernah kutemui.
Farhan tersenyum tipis.
Dunia memang sering mempermalukan prasangka kita.
Rama meminum kopinya perlahan.
Karena itu aku tidak lagi percaya pada cerita hitam putih.
Angin malam masuk dari jendela yang sedikit terbuka. Kertas koran di meja bergerak pelan seolah tertiup napas waktu.
Rama tiba tiba bertanya.
Kamu dapat koran ini dari mana.
Dari rak arsip lama, jawab Farhan.
Yang di pojok itu.
Rama menoleh ke arah rak arsip yang tinggi dan penuh bundel koran lama.
Ia mengambil koran itu lagi dan melihat bagian atas halaman.
Tiba tiba dahinya berkerut.
Farhan.
Ya.
Tanggal koran ini aneh.
Farhan tidak menjawab.
Raka membaca keras.
Selasa dua ribu dua puluh enam.
Ia menatap Farhan.
Ini minggu depan.
Farhan tetap diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan.
Aku tahu.
Rama tertawa gugup.
Mungkin salah cetak.
Mungkin.
Namun Farhan tidak terlihat yakin.
Rama berdiri dan berjalan ke rak arsip.
Ia menarik satu bundel koran lain.
Tanggalnya membuat napasnya berhenti.
Tahun depan.
Tangannya mulai gemetar saat membuka halaman pertama.
Berita utama terpampang besar.
Tentang konflik baru di Timur Tengah.
Tentang perang yang belum terjadi.
Rama menoleh perlahan ke arah Farhan.
Farhan.
Ya.
Kalau ini benar berarti semua yang akan terjadi sudah tercetak di sini.
Farhan memandang tumpukan koran itu dengan wajah yang sulit dibaca.
Mungkin.
Atau mungkin kita yang sedang membaca masa depan terlalu cepat.
Rama membuka halaman lain.
Matanya tiba tiba membeku.
Ada sebuah berita kecil di bagian bawah halaman.
Ia membaca namanya sendiri di sana.
Seorang jurnalis ditemukan tewas dalam kerusuhan massa setelah meliput demonstrasi besar tentang konflik Timur Tengah.
Namanya tertulis jelas.
Rama.
Tangannya gemetar. Ia menatap Farhan dengan wajah pucat.
Farhan berdiri perlahan dari kursinya.
Ada sesuatu yang selama ini tidak kuceritakan, katanya pelan.
Apa.
Farhan menatap rak koran itu.
Aku menemukan arsip ini tiga hari lalu.
Dan sejak itu aku membaca banyak berita tentang hari hari yang belum terjadi.
Rama menelan ludah.
Lalu kenapa kamu tidak menghentikan semuanya.
Farhan menatapnya lama sebelum menjawab.
1 spasi
Karena ada satu berita lain yang juga kutemukan.
Berita tentang siapa yang pertama kali menemukan koran dari masa depan.
Rama berbisik.
Siapa.
Farhan menjawab dengan suara hampir tak terdengar.
Aku.
Ia menunjuk halaman terakhir koran itu.
Di sana tertulis sebuah berita kecil.
Seorang jurnalis ditemukan meninggal di ruang redaksi setelah mengalami serangan jantung mendadak ketika membaca arsip koran misterius.
Nama jurnalis itu tertulis jelas.
Farhan.
Angin malam kembali masuk dari jendela yang terbuka. Beberapa lembar koran di rak arsip bergerak pelan seperti halaman waktu yang sedang dibalik oleh tangan yang tak terlihat.
Di meja redaksi, sebuah bundel koran lain perlahan terbuka.
Tanggal yang tercetak di sudut halamannya membuat ruangan itu terasa lebih dingin.
Lima tahun dari sekarang.




