detikterkini.id --Ramadhan merupakan bulan suci yang penuh berkah bagi umat Islam. Di bulan ini, umat Muslim di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus sebagai sarana membersihkan diri dari dosa. Namun, di balik kemuliaan bulan Ramadhan, terdapat peringatan keras bagi siapa saja yang sengaja meninggalkan puasa tanpa alasan yang dibenarkan syariat serta tidak menghormati orang yang menjalankan ibadah tersebut.
Dalam ajaran Islam, puasa Ramadhan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan kewajiban yang telah ditetapkan Allah SWT bagi setiap Muslim yang telah baligh, sehat, dan mampu menjalankannya. Mengabaikan kewajiban ini secara sengaja tanpa uzur syar’i seperti sakit, safar, atau kondisi tertentu merupakan perbuatan yang sangat tercela.
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili menggambarkan ancaman yang sangat mengerikan bagi orang yang meremehkan puasa Ramadhan. Dalam hadis tersebut, Prophet Muhammad menceritakan sebuah mimpi yang menjadi pelajaran bagi umatnya.
Beliau bersabda bahwa ketika sedang tidur, dua orang laki-laki datang memegang kedua lengannya dan membawanya menuju sebuah gunung yang sangat terjal. Mereka memintanya untuk naik ke atas gunung tersebut. Awalnya beliau mengatakan tidak mampu, namun keduanya menyampaikan bahwa perjalanan itu akan dimudahkan.
Setelah sampai di tengah gunung, Rasulullah mendengar suara teriakan yang sangat keras. Ketika beliau bertanya suara apa itu, keduanya menjawab bahwa suara tersebut adalah teriakan para penghuni neraka.
Tidak lama kemudian beliau diperlihatkan pemandangan yang sangat mengerikan. Ada sekelompok orang yang digantung terbalik dengan urat-urat kaki mereka sebagai ikatan. Mulut mereka sobek hingga ke samping dan darah mengalir dari luka tersebut. Rasulullah pun bertanya siapa mereka.
Kedua orang tersebut menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitabnya (HR. Ibnu Hibban No. 7491) dan sering dijadikan pengingat keras tentang beratnya dosa meremehkan ibadah puasa.
Pesan moral dari kisah tersebut sangat jelas. Puasa Ramadhan bukan hanya kewajiban pribadi, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap syariat Islam. Bahkan bagi mereka yang tidak menjalankan puasa karena alasan tertentu sekalipun, tetap dianjurkan untuk menjaga sikap dan menghormati orang lain yang sedang berpuasa.
Di tengah kehidupan modern saat ini, masih ditemukan sebagian orang yang dengan sengaja makan dan minum secara terbuka di siang hari Ramadhan tanpa alasan yang jelas. Perilaku seperti ini tidak hanya menunjukkan kelalaian terhadap kewajiban agama, tetapi juga kurangnya penghormatan terhadap suasana ibadah yang dijalankan oleh masyarakat Muslim.
Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, serta menumbuhkan rasa empati dan kedisiplinan. Oleh karena itu, peringatan dalam hadis tersebut menjadi pengingat bagi umat Islam agar tidak meremehkan ibadah puasa.
Semoga bulan suci Ramadhan menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk meningkatkan ketakwaan, menjaga adab, serta menghormati nilai-nilai ibadah yang telah diajarkan dalam agama. Karena pada akhirnya, setiap amal yang dilakukan manusia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT (Bush87)




