detikterkini.id --Kita sering berbicara tentang rakyat dengan suara lantang, seolah-olah kata itu milik kita. “Rakyat menderita.” “Rakyat harus dibela.” “Demi rakyat.” Kata itu meluncur begitu mudah dari podium, dari ruang diskusi, dari halaman surat kabar. Tetapi setelah mikrofon dimatikan, kita kembali ke rumah yang terang, ke meja makan yang penuh, ke kehidupan yang aman dari antrean minyak tanah dan kenaikan harga beras.
Ada jarak yang sunyi antara kata dan kehidupan.
Saya sering bertanya dalam hati: apakah kita sungguh mencintai rakyat, atau hanya mencintai gagasan tentang rakyat? Sebab mencintai gagasan jauh lebih mudah. Ia tidak menuntut apa-apa selain pidato dan sedikit kemarahan yang terkontrol. Tetapi mencintai manusia yang nyata—yang kotor oleh lumpur sawah, yang letih oleh kerja pabrik, yang bingung oleh harga-harga—itu menuntut keberanian untuk turun, untuk mendengar, untuk merasa tidak nyaman.
Di negeri ini, terlalu banyak orang berbicara atas nama rakyat tanpa pernah benar-benar duduk bersama mereka. Kita gemar menjadi juru bicara, tetapi jarang menjadi kawan. Kita mengutuk kemiskinan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh merasakan bagaimana rasanya memilih antara makan hari ini atau membayar sekolah anak.
Barangkali masalahnya bukan pada kurangnya kecerdasan, melainkan pada kurangnya kejujuran. Kita takut kehilangan kenyamanan. Kita takut jika terlalu dekat dengan penderitaan, kita harus mengubah cara hidup kita sendiri. Maka kita memilih jarak yang aman: cukup dekat untuk terlihat peduli, cukup jauh untuk tidak tersentuh.
Mahasiswa, intelektual, aktivis—semua mudah tergoda menjadi elite baru. Kita mengkritik penguasa karena hidup mewah, tetapi diam-diam kita bermimpi menggantikan mereka di kursi yang sama. Kita berbicara tentang revolusi, tetapi hati kita masih terikat pada fasilitas.
Mungkin yang dibutuhkan bukan lebih banyak pidato, melainkan lebih banyak keheningan untuk bercermin. Apakah kita sungguh berdiri bersama rakyat, atau hanya berdiri di depan mereka?
Rakyat bukan slogan. Ia bukan alat retorika. Ia adalah manusia dengan wajah, dengan nama, dengan rasa takut dan harapan yang sederhana. Jika kita tidak berani hidup lebih dekat dengan kenyataan mereka, maka setiap kali kita mengucapkan kata “rakyat”, sesungguhnya kita sedang berbohong—paling tidak kepada diri sendiri.
Salam Kato




