Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Aipda Sigit Dwi Susanto "HELLBOY": Pengabdian Maksimal Tanpa Pamrih Di Garis Depan

Minggu, 21 Juni 2026 | Juni 21, 2026 WIB Last Updated 2026-06-21T09:27:50Z

detikterkini.id
Surabaya – Di tengah riuh rendah kritik dan sorotan tajam yang kerap menerpa institusi kepolisian, Aipda Sigit Dwi Susanto tetap berdiri kokoh. Pria yang lebih akrab disapa "Hellboy" ini, selaku Katim Opsnal Unit III Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur, membuktikan bahwa marwah seorang bhayangkara tidak diukur dari popularitas, melainkan dari ketulusan dalam menjaga keamanan rakyat.
 
Bagi Hellboy, pengabdian sejati adalah sebuah sunyi. Ketika lampu-lampu rumah warga mulai padam dan masyarakat terlelap, di situlah detak tugas mereka justru semakin keras. Di balik terciptanya situasi kamtibmas yang kondusif, ada harga mahal yang harus dibayar; mulai dari malam-malam tanpa tidur, risiko yang menantang maut, hingga tekanan batin yang tak terlihat.
 
"Hujatan silakan lempar ke kami, tapi biarkan rakyat tetap aman di belakang kami," tegas Hellboy, Sabtu (20/6).
 
Kalimat tersebut bukan sekadar retorika, melainkan doktrin hidup yang ia pegang teguh. Sebagai personel Jatanras yang sehari-hari bergelut dengan dunia kriminalitas, ia paham betul posisi korpsnya sering menjadi sasaran empuk cibiran. Namun, baginya, seorang polisi harus memiliki mental baja: tidak boleh terlena oleh pujian, apalagi tumbang oleh cercaan. Fokus utamanya hanya satu, memastikan rasa aman masyarakat tidak terusik.
 
Filosofi "Sabuk Kamtibmas": Tanggung Jawab Bersama
 
Hellboy menekankan bahwa keamanan bukanlah komoditas yang bisa dijaga sendirian oleh aparat. Ia menggaungkan konsep "Sabuk Kamtibmas", sebuah gerakan yang mengajak seluruh elemen bangsa—mulai dari pejabat, tokoh masyarakat, media, pengusaha, hingga pemuda—untuk bersatu padu.
 
"Menjaga keamanan bukan hanya tugas seragam kami. Ini adalah kontrak sosial seluruh warga negara Indonesia. Semua pihak harus saling mengaitkan diri demi menjaga persatuan dan ketertiban," ujarnya.
 
Di era digital saat ini, tantangan tidak lagi hanya berupa kejahatan konvensional. Ancaman nyata kini juga hadir dalam bentuk hoaks, berita bohong, dan narasi provokatif yang berpotensi memecah belah bangsa. Oleh sebab itu, kedewasaan digital masyarakat menjadi benteng pertahanan utama.
 
Kritik adalah Vitamin Demokrasi
 
Menanggapi berbagai kritik yang masuk, Hellboy justru melihatnya sebagai hal yang positif. Baginya, kritik adalah "vitamin" bagi demokrasi dan bentuk kontrol sosial yang mutlak diperlukan. Namun, ia berharap setiap kritik disampaikan dengan niat membangun, berbasis fakta, dan menawarkan solusi, bukan sekadar cacian yang merusak.
 
"Polisi dan masyarakat sebenarnya memiliki tujuan yang sama: mendambakan Indonesia yang aman, tertib, dan berkeadilan. Mari saling mengingatkan tanpa menjatuhkan, dan saling mendukung demi kepentingan yang lebih besar," tambahnya.
 
Di tengah kompleksitas tugas yang diemban, Hellboy mengajak semua pihak untuk menyingkirkan ego sektoral. Ia percaya, sejarah tidak akan mencatat berapa banyak pujian yang diterima, melainkan apa yang telah dikorbankan untuk rakyat dan negara.
 
"Pengabdian sejati adalah ketika masyarakat merasa aman dan nyaman, meski mereka mungkin tidak pernah tahu siapa yang sebenarnya berjaga dan berkorban untuk mereka," pungkasnya.

 
Berita ini dipersembahkan oleh:
Arnot Bratapos.com - Lintas Selatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update